-- King 2 Hearts Episode 19 --
Kepala keamanan istana berulang tahun. Para pelayan mengadakan perayaan
kecil-kecilan. Tiba-tiba Jae-shin datang. Mereka langsung menghentikan
perayaan mereka dan terlihat tegang. Jae-shin bertanya apakah ia
begitu menakutkan. Kepala keamanan buru-buru menyangkalnya.
Jae-shin berkata ia datang untuk ikut merayakan ulang tahun kepala
keamanan. Jae-shin menyerahkan hadiah yang ia persiapkan sebelumnya.
Isinya sebuah tas yang cantik. Kepala keamanan sangat senang. Suasana
pun mencair. Jae-shin tersenyum.
Ia ingat PR yang diberikan Shi-kyeong padanya. Ia harus berlatih
menghadapi orang lain, tersenyum 3 kali sehari, dan kembali bernyanyi.
Sementara itu Jae-ha menatap Shi-kyeong, yang sedang mengacungkan
senjata ke arahnya, dengan tatapan tak percaya. Bong-gu tersenyum
lebar.
Shi-kyeong mendorong Jae-ha agar menduduki kursi (seperti tahta
kerajaan) yang telah dipersiapkan. Jae-ha ragu-ragu. Shi-kyeong
mengokang senjatanya. Jae-ha terpaksa duduk, berhadapan dengan Bong-gu
yang juga menduduki kursi yang sama. Bong-gu ingin memperlihatkan kalau
ia juga Raja, setingkat dengan Jae-ha.
Bong-gu mengijinkan Shi-kyeong pergi jika hal ini terlalu berat
baginya. Dengan yakin Shi-kyeong berkata kalau ia akan tetap tinggal.
Jae-ha terus menatap Shi-kyeong. Kecewa, tak percaya, merasa
dikhianati? Setidaknya itulah yang dilihat Bong-gu.
“Batalkan tuntutan, putuskan pertunangan dengan Kim Hang-ah, dan turunlah dari tahta. Jika tidak….” ancam Bong-gu.
“Apakah ia yang ditugaskan untuk membunuhku?” tanya Jae-ha tanpa sekalipun menatap Bong-gu.
“Tentu saja. Korea akan menghadapi krisis. Para rakyatmu akan mati. Kau
atau Republik Korea, buatlah pilihan. Aku akan memberimu 10 menit
untuk memutuskan,” kata Bong-gu.
Jae-ha harus memilih. Jika ia tidak memenuhi tuntutan Bong-gu maka ia
akan mati. Jika ia memenuhi tuntutan Bong-gu, ia akan tetap hidup dan
sebagai gantinya Korea yang akan hancur. Ini sih bukan milih namanya
>,<
Hang-ah dan ayahnya sedang dalam perjalanan kembali ke Korea. Di tengah
perjalanan, Hang-ah ingin memutar balik. Ia tak bisa berhenti
mengkhawatirkan Jae-ha. Ayah Hang-ah berkata Jae-ha adalah Raja Korea
Selatan, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Hang-ah memberitahu ayahnya kalau ia dan Jae-ha telah mendiskusikan
sebuah rencana. Ia minta maaf tidak memberitahu ayahnya sebelumnya
karena alasan keamanan. Hanya kepala pengawal istana yang mengetahui
rencana itu.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Bong-gu pada Jae-ha, ”Orangmu telah membelot ke pihakku.”
Jae-ha melirik Shi-kyeong yang masih mengacungkan senjatanya padanya.
“Jangan terlalu membencinya. Aku telah menghabiskan banyak usaha agar
ia berpihak padaku. Jujurlah, apa kau pernah berusaha untuk
mendapatkannya? Kau mendapatkannya karena statusmu. Aku menggunakan
uang untuk mendapatkan orang dan kau menggunakan statusmu. Apa
bedanya?” celoteh Bong-gu.
“Kau…apakah benar seperti itu?” tanya Jae-ha pada Shi-kyeong.
“Apa yang bisa disukai dari seorang Raja yang hanya menyandang gelarnya
saja? Aku pernah goyah,” Shi-kyeong mengakui. “Ketika kau ingin turun
tahta dan ketika kau menghalangiku datang ke sini. Tapi hanya itu
saja.”
Wajah Bong-gu berubah mendengar perkataan Shi-kyeong.
“Kau tak pernah menyalahkan orang lain dan tak pernah mengaku kalah.
Ketika dalam kenyataan ada 99% ketidak mungkinan, kau selalu memikirkan
segala cara untuk mencari dan menemukan 1% kemungkinan itu. Aku tidak
tinggal di sisimu karena kau seorang Raja. Tapi karena kau tidak pernah
menyerah dalam keadaan terburuk sekalipun.”
Shi-kyeong dengan dramatis mengalihkan senjatanya terhadap Bong-gu. Bon
Bon serta merta mengacungkan senjatanya pada Shi-kyeong. Pasukan
Bong-gu merapat, mengacungkan senjata mereka pada Shi-kyeong dan
Jae-ha.
“Freeze!! Freeze!!” terdengar teriakan dari belakang mereka.
Pasukan Utara dan Selatan muncul dari balik batu-batuan, mengepung
Bong-gu dan para kroconya. Bong-gu terdiam, sementara Jae-ha ganti
memandangnya dengan penuh percaya diri. Well, this is the real King.
Hang-ah berjalan ke sebuah menara tak jauh dari tempat Jae-ha. Ia
mempersiapkan senjata laras panjang (untuk penembak jitu) dan
mengarahkannya pada Bon Bon.
Bagaimana Jae-ha mempersiapkan semua ini? Ia dan Shi-kyeong telah
merencanakan hingga hal yang paling detil. Percakapan mereka di telepon
sebenarnya mengandung kode yang telah disepakati oleh mereka berdua.
Ketika Shi-kyeong menjawab, perkataannya langsung diterjemahkan menjadi
kode enkriptik yang menunjukkan lokasi Bong-gu sebenarnya. Dengan
demikian tidak ada pasukan yang pergi ke lokasi palsu yang telah dengan
jelas disebutkan Shi-kyeong sebelumnya. Semua telah menanti di lokasi
ini sejak awal.
“Kau menyuruhku untuk memilih apa? Republik Korea atau nyawaku? Aku memilih….kau,” ujar Jae-ha.
Shi-kyeong memerintahkan agar pasukan Bong-gu menurunkan senjata mereka. Mereka menurunkannya, kecuali Bon Bon.
“Kau juga,” perintah Shi-kyeong.
Bon Bon pelan-pelan menurunkan senjatanya. Lalu tiba-tiba ia
mengacungkannya kembali untuk menembak Shi-kyeong. Ia kalah cepat,
Hang-ah telah lebih dulu menembaknya, mengenai bagian lengan Bon Bon
hingga senjatanya terlepas.
Shi-kyeong dan pasukan Utara-Selatan otomatis mengeluarkan tembakan ke
arah Bon Bon. Diserbu rentetan peluru, Bon Bon pun terkapar. No more
crazy chocolate girl.
“Angkat kedua tanganmu!” seru Shi-kyeong pada Bong-gu.
Bong-gu mengangkat kedua tangannya. Dua petugas ICC menghampiri Bong-gu
untuk menangkapnya. Seorang dari mereka membacakan hak-hak Bong-gu
sementara seorang lagi memborgol tangan Bong-gu yang terletak di
belakang kepala.
Shi-kyeong menurunkan senjatanya dan berbalik menghadap Jae-ha. Hang-ah
pun menurunkan dan membereskan senjatanya. Shi-kyeong tersenyum lega.
Tiba-tiba Bong-gu mengangkat tangannya dan menembak Shi-kyeong.
Sepertinya ia telah menyembunyikan senjata di balik kerah bajunya. Atau
karena ia pesulap?
Peluru menembus punggung Shi-kyeong hingga darah terpercik ke pakaian
Jae-ha. Jae-ha terbelalak. Hang-ah terkejut saat mendengar suara
tembakan. Shi-kyeong berbalik melihat Bong-gu, lalu roboh. Jae-ha
cepat-cepat menangkapnya.
Shi-kyeong dan Jae-ha menatap Bong-gu. Pandangan Jae-ha seakan berkata: “Mengapa kau melakukannya?!”
“Mengapa kau membuatku seperti ini?” tanya Bong-gu pada Shi-kyeong. Patah hati rupanya.
“Eun Shi-kyeong…Eun Shi-kyeong!!” seru Jae-ha.
“Y-Yang Mulia…”
“Jangan bicara,” gumam Jae-ha panik. Ia berteriak meminta ambulans.
Dong-ha tersadarkan dari rasa terkejutnya dan berlari untuk menelepon
ambulans.
Shi-kyeong memuntahkan banyak darah. Jae-ha semakin panik.
“Bagaimana ini…bagaimana ini…karena aku…” air mata menetes tanpa Jae-ha sadari.
“Jangan….katakan itu. Aku yang membuat pilihan ini. Bukankah kita sudah
menangkap Bong-gu? Di masa yang akan datang, pastikan untuk tidak
pernah menyerah. Karena kau adalah…” Shi-kyeong berusaha meneruskan
ucapannya, “Raja…”
Jae-ha menangis dan terus berseru memanggil Shi-kyeong.
“Eun Shi-kyeong!! Shi-kyeong-ah…jangan mati…jangan mati!! Eun Shi-kyeong!!! Ini perintah...jangan mati!! Eun Shi-kyeong!!”
Shi-kyeong mengingat masa-masa ia bersama Jae-shin dan ayahnya
(sementara Jae-shin sedang membuat PR-nya dengan tersenyum dan menyanyi
untuk para pelayan). Terakhir, ia ingat teman-temannya dalam WOC.
Gosh…this drama is killing me *nangis parah*
Shi-kyeong menghembuskan nafas terakhirnya. Kepalanya terkulai dalam
pelukan Jae-ha. Jae-ha berteriak dan menangis sejadi-jadinya. (Aku
dengar, dalam adegan ini Lee Seung-gi sangat larut dalam emosinya
hingga ia tak bisa berhenti menangis bahkan setelah sutradara
meneriakkan “CUT!” untuk waktu yang cukup lama.)
“Eonni…apa yang baru saja Eonni katakan?” tanya Jae-shin, masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Komrad Eun Shi-kyeong….gugur saat menjalankan tugas,” kata Hang-ah menahan tangisnya.
“Dia bilang dia pergi berlibur,” Jae-shin menjelaskan.
Hang-ah menatap Jae-shin.
“Itu benar, Kak. Eun Shi-kyeong tak akan berbohong.”
Hang-ah tak menjawab. Ia menyerahkan sebuah kotak kecil pada Jae-shin.
Dengan tangan gemetar, Jae-shin mengambil kotak itu dan membukanya.
Isinya adalah rantai dengan tanda pengenal Shi-kyeong. Jae-shin
menangis.
“I-Ia berjanji akan kembali...,” isaknya.
Hang-ah memalingkan wajahnya dan berusaha menahan tangisnya, tak tahan melihat kepedihan Jae-shin.
“Ia bahkan memberiku PR. Ia bilang ia akan pulang setelah aku
menyelesaikannya,” Jae-shin meratap, “Aku bahkan berlatih…berlatih
bernyanyi…dia berjanji akan pulang…Eonni…”
Hang-ah tak tahan lagi. Air matanya mengalir. Hang-ah memeluk Jae-shin dan ikut menangis bersamanya.
“Tidaak…tidaaak…” ratap Jae-shin.
Sekretaris Eun berduka di kantor anaknya. Ia membelai papan nama Shi-kyeong dan memandanginya dengan sedih.
Jae-ha masuk. Sekretaris Eun bangkit berdiri dan memberi hormat.
“Pikiran kita berdua saat ini mungkin sama. ’Aku yang mengakibatkan
kematiannya’. ‘Dia mati gara-gara aku’. Tapi karena aku Raja, aku tidak
diperbolehkan hanya memikirkan hal itu. Paman juga sama,” kata Jae-ha.
Jae-ha tahu Sekretaris Eun menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab
kematian Shi-kyeong, sama seperti dirinya. Sekretaris Eun pasti
berpikir jika awalnya ia tidak berkhianat, Shi-kyeong tidak akan
mengajukan diri menjadi mata-mata untuk menebus kesalahan ayahnya. Atau
jika ia tidak bekerjasama dengan Bong-gu, mungkin keadaannya tidak
serumit ini. Sementara Jae-ha merasa bersalah karena pada akhirnya ia
yang mengirim Shi-kyeong untuk tugas berbahaya ini.
Jae-ha mengusap papan nama Shi-kyeong.
“Walau aku sedikit berbeda dengannya, menurut Paman aku bagaimana? Aku
akan menganggap Paman sebagai ayahku dan akan menjaga Paman.”
Sekretaris Eun tak bisa menjawab. Jae-ha memeluk Sekretaris Eun.
Keduanya kehilangan Shi-kyeong tapi mereka berdua bisa menguatkan satu
sama lain.
Pemakaman Shi-kyeong.
Sekretaris Eun, Jae-ha, dan seluruh pasukan pengawal kerajaan mengantar
kepergian Shi-kyeong. Sebuah tanda penghargaan negara pada Shi-kyong,
ditaruh Jae-ha di atas altar. Suasana duka menyelimuti tempat itu.
“Yang Mulia, kapten gugur saat ia masih tercatat bertugas di negara
lain. Tolong biarkan ia kembali pada kesatuannya. Setidaknya agar
rohnya dapat kembali,” kata Dong-ha. Jae-ha menatap foto Shi-kyeong.
“Aku perintahkan Kapten Eun Shi-kyeong kembali ke kesatuannya,” Jae-ha
memerintahkan dengan lantang, lalu memberi hormat. Penghormatan
terakhir diberikan berupa tembakan ke langit.
Bong-gu mulai diinterogasi. Penuntut dari ICC bertanya apakah Bong-gu
dijebak atau ada kesepakatan antara Bong-gu dengan Jae-ha saat video
bukti itu direkam. Bukan keduanya sih karena rekaman itu tidak
disengaja, tapi Bong-gu tak menjawab. Ia bahkan terlihat tak
mendengarkan perkataan penuntut itu. Penuntut bertanya apakah Bong-gu
telah membunuh raja dan ratu sebelumnya.
“Setelah semua peristiwa ini, aku hanya mempelajari satu hal. Bahwa
orang seperti aku, sama sekali tidak boleh memperlihatkan perasaan.
Tidak ada untungnya sama sekali,” kata Bong-gu pada dirinya sendiri.
Pada dasarnya ICC tidak mendapatkan jawaban apapun dari Bong-gu. Bahkan
tim pengacara Bong-gu mengajukan permintaan pembebasan dengan jaminan.

Tentu saja Jae-ha menentang permintaan itu. Mereka telah dengan susah
payah menangkap Bong-gu (yup, bahkan Shi-kyeong mati untuk itu
>,<). Sekretaris Eun berkata ia akan mengkonsultasikan masalah
ini dengan tim ahli hukum keluarga kerajaan.
Daniel Craig berkata Bong-gu harus bertahan selama beberapa waktu lagi
karena Korea Selatan yakin Bong-gu akan melarikan diri dan menentang
pengajuan pembebasan bersyaratnya. Bong-gu bertanya apa yang dilakukan
oleh para sekutunya di Amerika, Cina, dan negara-negara lainnya. Daniel
Craig berkata para politikus berpengaruh sedang mempersiapkan petisi
untuk membebaskan Bong-gu.
“Petisi? Hanya itu? Katakan pada mereka yang telah menerima sumbangan
kita, aku akan membeberkan nama mereka pada umum. Tidak…aku akan
membeberkan semuanya.”
“Tindakan itu akan menyakiti kita juga,” Daniel mengingatkan.
“Agar bisa benar-benar sadar, kita harus memotong beberapa jari. Mereka tidak tahu siapa yang mereka tangkap,” sahut Bong-gu.
Daniel Craig berkata ia akan mempersiapkan semuanya. Apapun
konsekuensinya. Bong-gu menambahkan bahwa hubungan Korea Utara dan
Selatan harus terus ditekan.
Hang-ah menggantikan mertuanya menjalankan kegiatan sosial. Ia sedang
menjadi sukarelawan di bank ketika Ibunda Raja meneleponnya. Ia
menenangkan mertuanya kalau ia melakukan tugasnya dengan baik. Jika
Ibunda Raja telah pulih, Ibunda Raja bisa kembali melakukan
aktivitasnya.
Baru saja Hang-ah menutup teleponnya, sebuah telepon lain masuk. Dari
wajahnya yang sumringah, kita bisa menerka kalau Jae-ha yang
meneleponnya.
“Dengan siapa kau barusan berbicara? Dengan pria-kah?”
“Akan baik sekali jika ada seorang pria yang bisa kuajak bicara melalui
telepon,” gurau Hang-ah. Jae-ha tersenyum. Ia bertanya apakah Hang-ah
merasa lelah. Hang-ah berkata ia melakukan hal-hal yang pernah dilalui
Ibunda Raja, cukup menarik.
“Kudengar banyak yang menyarankan agar pernikahan kita dilaksanakan
pada tanggal 15 Agustus (Hari Kemerdekaan Korea). Komite keluarga
kerajaan juga mengusulkan tanggal tersebut.”
Hang-ah tersenyum mendengar perkataan Jae-ha.
“Halo? Mengapa kau tak mengatakan apapun? Apa kau tak ingin menikah?” seloroh Jae-ha.
“Bagus juga jika tidak menikah.”
“Apa yang kaukatakan? Kita telah melalui berbagai kesulitan hingga saat ini.”
Jae-ha mengajak Hang-ah bertemu satu jam sebelum pembuatan video persatuan.
“Sebelum mulai syuting, aku akan menraktirmu makan kue,” bisik Jae-ha. Hang-ah diam-diam tersenyum senang.
“Kenakan jins dan topi, kita akan berjalan-jalan. Bergandengan tangan.”
“Bisakah?” Hang-ah balas berbisik, seakan-akan mereka sedang
membicarakan hal yang tak boleh dilakukan. “Kita harus menyiapkan
pernikahan dan melakukan kegiatan promosi. Kita begitu sibuk, bagaimana
bisa…”
“Apa salahnya menggunakan waktu luang untuk berkencan? Sudahlah jika
kau tak mau,” ujar Jae-ha pura-pura kesal, “Aku mungkin akan syuting
dengan orang lain saja. Banyak wanita cantik di sana. Apakah aku perlu
membuat film dengan mereka?”
Hang-ah tak termakan usaha Jae-ha untuk membuatnya cemburu. Ia bertanya
apakah mereka benar-benar bisa seperti orang biasa, pergi makan kue
dan minum kopi.
“Benar-benar bisa?” tanyanya, kali ini tak menyembunyikan perasaan senangnya.
Jae-ha tersenyum mengiyakan. Hang-ah berkata ia akan segera datang
begitu kegiatannya selesai. Ia meminta Jae-ha menunggu. Mereka tak
sabar untuk segera bertemu dan berkencan.
Tapi sebagai seorang Raja kehidupan Jae-ha tidaklah sesederhana itu.
Apalagi muncul berita bahwa Amerika mendadak berbuat ulah dengan
membatalkan penyesuaian nilai tukar, akibatnya kenaikan pajak rakyat
tak bisa dihindari.
“Tampaknya mereka mulai menjatuhkan sanksi ekonomi pada kita,” kata Sekretaris Eun.
“Apa alasannya?” tanya Jae-ha.
“Dan juga Direktur Dewan Keamanan Amerika ingin berbicara dengan Yang Mulia. Sepertinya mengenai masalah ini.”
Jae-ha dan Direktur itu (yang ternyata Komandan Amerika yang ingin
Jae-ha minta maaf sebagai Raja saat insiden WOC) berbicara lewat
telepon. Direktur itu tanpa basa-basi berkata kalau mereka sedang
mengajukan petisi untuk membebaskan Bong-gu dengan jaminan. Seluruhnya
232 politisi. Bukan hanya dari Amerika dan Cina, tapi juga dari
negara-negara lainnya.
“Penangkapan John Mayer adalah tragedi internasional.” Whaaa???? Lalu
disebut tragedi apakah kematian Jae-kang dan Shi-kyeong??? Hal itu juga
yang menjadi argumentasi Jae-ha. Tapi Direktur itu berkata pengadilan
yang berhak membuat penilaian. Direktur itu mengancam akan memberi
lebih banyak sanksi pada Korsel jika Jae-ha tak ikut mengajukan petisi
untuk pembebasan Bong-gu dengan jaminan.
Belum tahu dia berapa IQ Jae-ha hehehe^^ Jae-ha bertanya apakah
permintaan pembebasan Bong-gu itu diajukan secara resmi oleh “negara”
Amerika Serikat, dan bukan dari Direktur itu secara pribadi.
“Well, itu bagian dari kebijakan para politisi Amerika. Seperti kau tahu, aku adalah Direktur Dewan Keamanan Amerika.”
“Benarkah? Aku adalah Raja Korea Selatan,” sahut Jae-ha.
Karena bukan pemerintah Amerika Serikat yang secara resmi mengajukan
permintaan, ia tidak bisa mengerti permintaan itu. Dengan tenang ia
meminta Direktur itu meneleponnya lagi jika pemerintah Amerika sudah
resmi mengambil sikap.
Jadi sebenarnya tekanan dan sanksi itu bukan datang dari negara
Amerika, tapi dari Direktur itu yang merupakan sekutu Bong-gu. Namun
tetap saja sanksi itu menyulitkan perekonomian Korsel.
Jae-ha memanggil memanggil Menteri Ekonomi dan Menteri Urusan Luar
Negeri untuk membicarakan masalah ini. Masalah ini cukup serius karena
jika sanksi berlangsung selama 6 bulan saja, perekonomian Korea akan
sulit dipulihkan. Menteri Luar Negeri menyarankan agar mereka menuruti
permintaan itu. Bukankah pembebasan dengan jaminan bukan berarti
Bong-gu terbebas dari tuntutan?
“ Dia tidak boleh dibebaskan dengan jaminan, Yang Mulia,” kata
Sekretaris Eun tegas, “Pembebasannya akan berpengaruh besar pada
pengadilannya nanti. Dia pasti akan melarikan diri ke negara lain (yang
bukan anggota ICC) selama ia dibebaskan. John Mayer harus menerima
hukumannya.”
Jae-ha mengangguk setuju.
Hang-ah telah kembali ke istana. Ia mengenakan pakaian kasual dan melangkah riang, siap untuk kencannya dengan Jae-ha.
Tapi ia berhenti di ambang pintu ketika Jae-ha mengatakan sesuatu
mengenai sanksi ekonomi. Hang-ah melihat wajah tunangannya yang nampak
kusut. Ia melihat Jae-ha menerima telepon yang mengingatkannya akan
jadwal selanjutnya, Jae-ha meminta agar semua jadwalnya dibatalkan
untuk hari itu. Termasuk kencannya.
Hang-ah melihat ayahnya berjalan menghampirinya. Wajahnya sama kusut dengan Jae-ha.
Ternyata yang mendapat tekanan bukan Korsel saja tapi Korut juga. Cina
telah memblokir jalur pipa gas yang menuju Utara. Saat ini partai Utara
sedang ricuh. Jika terus seperti itu, rakyat Utara akan kekurangan
bahan makanan.
Hang-ah sangat kesal. Ia berkata Bong-gu tidak boleh dilepaskan begitu
saja. Ia mengingatkan ayahnya akan apa yang telah dilakukan Bong-gu
pada dirinya. Tapi ayah Hang-ah hanya menunduk tak berdaya.
“Ayah, kita Korea Utara juga harus menyumbangkan kekuatan.”
“Mereka memberi kami banyak tekanan.”
“Lalu, jika Kim Bong-gu dilepaskan, apakah Cina akan memberi kita
hadiah?” tanya Hang-ah. Mereka hanya akan semakin menggunakan kekuasaan
mereka dengan sewenang-wenang.
“Bukankah ini masalah Korea Selatan?” kata ayahnya. Ia bertanya tak
bisakah Hang-ah tidak turut campur masalah negara (Selatan) dan hanya
mendukung Utara.
“Ayah!!” protes Hang-ah. Ayah Hang-ah menunduk, nampak malu karena telah mengusulkan hal seperti itu pada Hang-ah.
Hang-ah berkata tugas terpentingnya saat ini adalah melindungi Jae-ha.
Bukankah ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa ia sekarang orang
Selatan. Ayah Hang-ah tak bisa berkata apa-apa lagi.
Hang-ah menemui Jae-ha yang masih terus sibuk. Jae-ha meminta maaf karena telah mengingkari janjinya untuk berkencan.
Hang-ah ingin meringankan beban Jae-ha, karena itu ia berkata kalau
Utara akan mengirimkan wakilnya ke ICC. Termasuk dirinya yang akan
pergi.
“Apa?”
“Yang Mulia, bukankah Kim Bong-gu telah melakukan kejahatan dengan
mengganggu perdamaian Utara-Selatan? Pada saat seperti ini, mengirimkan
orang sepertiku sebagai perwakilan akan saat berguna. Dan lagi cara
pendekatan kita berdua sangat mirip,” bujuk Hang-ah.
“Tidak boleh,” Sahut Jae-ha tegas. “Penculikan, dipenjara….kesulitan apa lagi yang hendak kau jalani?”
“Aku ingin membantu Yang Mulia. Dan lagi…”
“Aku hanya ingin kau tinggal di sini dan tak melakukan apapun sampai
Kim Bong-gu dihukum. Setidaknya sampai ia diadili, tidak bisakah kau
tinggal di sisiku saja?”
Hang-ah terus berusaha membujuk Jae-ha untuk mengijinkannya pergi.
Masalah Bong-gu harus diselesaikan secepat mungkin dan ia melihat saat
ini hanya Jae-ha dan Korea Selatan yang sedang berjuang untuk mencari
kadilan. Ia juga ingin membantu.
“Sudah kubilang tidak apa-apa, kau tinggal saja di sini,” Jae-ha
menaikkan suaranya. “Aku tidak sanggup bila kau diculik lagi.”
“Kalau begitu sampai kapan aku harus bersembunyi?
“Bukankah aku sudah bilang? Sampai Bong-gu diadili.”
“Bagaimana jika ia tidak dipenjara? Apa kau akan seumur hidup
bersembunyi di istana dan takut padanya?” tanya Hang-ah. Jae-ha tetap
pada pendiriannya, Hang-ah tidak boleh pergi. Hang-ah meninggalkan
Jae-ha dengan kesal. Jae-ha terlihat menyesali pertengkaran mereka.
Tampaknya Hang-ah juga menyesal. Ia mengeluh hanya karena ingin menangkap Bong-gu, Jae-ha telah memarahinya.
Kepala keamanan menemui Hang-ah dan bertanya apakah Hang-ah bisa pergi
ke suatu tempat di mana ia pernah mengadakan kegiatan sosial.
Hang-ah bingung, semalam ini? Kepala keamanan mengiyakan. Ada seorang
lansia kesepian yang ingin sekali bertemu dengan Hang-ah. Hang-ah
berkata dengan nada menyesal kalau ia telah dilarang pergi keluar
istana oleh Jae-ha.
“Aku boleh pergi, bukan?” tanyanya senang, tiba-tiba menyadari kalau
kepala keamanan tidak akan memintanya jika Jae-ha belum mengijinkan.
Kepala keamanan membenarkan, Jae-ha telah memberinya ijin. Hang-ah
tersenyum.